أهلا و سهلا

JAGALAH HATI...

Minggu, 08 Juli 2012

Dunia


Berbicara tentang permasalahan hidup, tidak dapat dilepaskan dengan harta, jabatan, dan wanita. Bahkan, orang mengidentifikasikan ketiganya sebagai kesenangan dunia. Andai saja tiga hal tersebut tidak ada dan tidak menjadi primadona hidup, maka di satu sisi penjara-penjara akan sepi oleh penghuni dan neraka tidak dipenuhi oleh manusia-manusia yang rakus, tamak, iri, dengki, dan bakhil terhadap kenikmatan duniawi. Bukankah terjadi perang, pembunuhan, pemerasan, pemerkosaan, kecurangan, penipuan, korupsi, dan berbagai fitnah karena sering dipicu oleh tiga hal tersebut (harta, jabatan, dan pasangan hidup) ???.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia memang pada fitrahnya cenderung mencintai lawan jenis (dalam hal ini laki-laki mencintai wanita dan wanita mencintai lelaki), harta dan tahta (jabatan).
Allah SWT berfirman:

Dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkannya berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”
Bahkan Nabi muhammad SAW menjelaskan bahwa kebanyakan manusia menginginkan lebih banyak daripada apa yang telah diterima. Seandainya punya sepeda ia menginginkan motor, seandainya sudah punya motor ia ingin mobil, ketika ia sudah punya sebuah mobil ia akan menginginkan yang lebih dari itu dan seterusnya.
Nabi bersabda:
Seandainya anak cucu Adam diberi sebuah lembah yang penuh dengan emas, niscaya ia masih menginginkan yang kedua. Seandainya ia diberi dua buah lembah  niscaya ia akan menginginkan yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak cucu Adam kecuali tanah dan Allah mengampuni orang yang bertobat kepada-Nya. (H.R Bukhari, Muslim, At-Tirmizi).
Harat sangat memikat, wanita sangat mempesona, dan tahta sangat menggoda bagi orang-orang yang sangat berambisi. Ketiganya dapat membawa petaka dan celaka, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk menuju kepada kesejahteraan dan kebahagiaan sejati. Tergantung bagaimana seseorang menyikapinya.
Secara garis besar ada dua kelompok manusia dalam menyikapi kenikmatan duniawi, yaitu:
1.      Kenikmatan dunia sebagai Ghayah (tujuan)
Yaitu mereka yang memandang dan menetapkan bahwa tujuan hidup adalah untuk meraih sukses dunia, yang dilihat dari harta yang melimpah, istri yang cantik dan jabatan yang tinggi. Orang-orang seperti ini memang membangun lumbung dunianya tetapi menghancurkan akhiratnya. Seseorang jika kedua mata dan hatinya telah terfokus dan memandang dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup, niscaya Allah akan memberikan balasan pekerjaannya di dunia dengan kesenangan tetapi di akhirat ia tdk mendapatkan apa-apa kecuali neraka.

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka pasti kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan merekan di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di di akhirat kecuali neraka dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang mereka kerjakan (Q.S. Hud; 15-16)
Mengingkari dan mendustakan akan adanya kehidupan akhirat akan menjauhkan kita kepada Allah dan akan memperlebar jalan menuju kejahatan dan kerusakan. Kebahagiaan yang diraih bagaikan fatamorgana dan apa yang diraih merupakan kebahagiaan yang menipu.
Orang yang hatinya sudah buta terhadap negeri akhirat sedangkan mata dan hatinya hanya terfokus kepada dunia akan selalu mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara asalkan ia mendapatkan harta, jabatan dan kesenangan lainnya. Tak peduli didapatkan dengan cara halal atau haram yang jelas harta dan materi ia dapatkan.
Hatinya telah diracuni oleh sifat tamak, rakus dan serakah terhadap kekayaan harta, di satu sisi ia sangat takut terhadap kematian. Sebab, jika kematian segera menjemputnya mereka akan berpisah dengan harta dan jabatannya. Ia berharap dapat membeli waktu sehingga dapat memperpanjang hidupnya dan dia akan bersenang-senang lebih lama terhadap hartanya, akan tetapi kenyataannya yang namanya kematian tidak dapat kompromi, kapan tiba saatnya maka tidak akan diundur walau sedetik.
2.      Kenikmatan dunia sebagai washilah (jembatan)
Dan kelompok manusia yang kedua dalam menyikapi kehidupan dunia yaitu menjadikan kenikmatan dunia yaitu jabatan, pasangan hidup dan harta sebagai jembatan untuk menuju kehidupan yang hakiki di hari kemudian. Seluruh nikmat yang diterima akan dijadikan sebagai penunjang keberhasilan ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Dunia disikapi sebagai tempat untuk ikhtiar, menanam modal amal shalih,  dan akan selalu mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih Ridha-Nya. Semakin kekayaan bertambah maka kedermawanan bertambah. Semakin umur bertambah, maka semakin rajin ia beribadah.
Adapun harta dan jabatan yang didapat di dunia haruslah disadari bahwa itu adalah amugerah Allah SWT yang harus disyukuri. Allah berjanji bahwa Kenikmatan yang diperoleh di dunia itu sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan kesenangan di akhirat.
Cara pandang seperti ini akan menjadikan sikap hidup yang tidak malas, tidak rakus dan tidak serakah terhadap kehidupan dunia dan untuk memulainyaa kita harus menumbuhkan sikap ikhlas, qana’ah (merasa puas), tawakkal dan senantiasa bersyukur terhadap apa yang diberian oleh Allah Ta’ala.
Dan kita meyakini bahwa setiap amal perbuatan yang kita kerjakan pasti akan dibalas di hari akhirat hari pembalasan. Dan jika amal perbuatan baik kita lebih berat maka kita akan mendapat kehidupan yang memuaskan, sebaliknya jika amal perbuatan jahat seseorang lebih berat maka neraka lah tempat ia akan kembalikan, na’udzu billahi min dzalik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar